Ahli gizi dari Departemen Gizi FK-KMK UGM, Satria Perdana, S.Gz., Dietisien., resmi bergabung dalam tim Academic Health System (AHS) untuk membantu penanganan medis pascabanjir di Aceh. Keikutsertaan tenaga ahli ini merupakan langkah nyata dalam mendukung pencapaian SDGs nomor 2 mengenai Tanpa Kelaparan atau Zero Hunger. Tim berupaya memastikan bahwa status gizi para penyintas bencana tetap terjaga meski berada dalam kondisi darurat yang serba terbatas. Fokus utama mereka adalah mencegah terjadinya malnutrisi akut yang sering menyerang kelompok rentan di lokasi pengungsian. Sinergi ini menunjukkan komitmen universitas dalam merespons krisis kemanusiaan melalui pendekatan keilmuan yang tepat sasaran.
Pengabdian Masyarakat
Dharma Wanita Persatuan (DWP) BMKG sukses menyelenggarakan pertemuan rutin yang diisi dengan kegiatan Seminar Gizi pada hari Jumat, 13 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring dan dihadiri oleh anggota DWP dari berbagai unit kerja dengan semangat kebersamaan yang tinggi meskipun terpisah jarak. Agenda ini menjadi wadah penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus menambah wawasan mendalam bagi para anggota mengenai pentingnya kesehatan keluarga. Pelaksanaan seminar ini secara nyata mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 5, yaitu Kesetaraan Gender, dengan memberdayakan perempuan melalui akses informasi kesehatan yang krusial. Sebagai komunitas yang beranggotakan wanita, DWP BMKG berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas anggotanya agar dapat berperan aktif dan cerdas dalam menciptakan keluarga yang sejahtera.
Isu food waste atau limbah yang dihasilkan dari sisa pangan, menjadi topik yang sedang banyak dikaji baik di kalangan praktisi maupun akademisi. Hal ini tidak terlepas dari fenomena meningkatnya jumlah timbulan sisa pangan setiap tahun yang berdampak pada lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Timbulan food waste tidak hanya terjadi pada tahap produksi makanan, namun juga pada tahap konsumsi. Pada tahap konsumsi, konsumen berperan penting dalam upaya penurunan dan pencegahan food waste yang mana hal ini dapat dilakukan apabila konsumen memiliki kesadaran terkait isu ini. Atas dasar hal tersebut, tim dari Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, yang terdiri dari Marina Hardiyanti, S.Gz., M.Sc, Hanif Adinaya Pawestri, S.Gz., Satria Perdana, S.Gz., Dietisien, dan Gisela Silverine Widyananda melakukan survei terhadap mahasiswa kesehatan di lingkungan FK-KMK UGM terkait persepsi dalam memandang isu food waste. Berdasarkan survei daring yang diisi oleh 105 mahasiswa dari berbagai jenjang dan program studi didapatkan hasil bahwa sebagian besar mahasiswa yang berusia rata-rata 22 tahun berpersepsi bahwa kelompok usia muda (gen-z) lebih banyak menghasilkan food waste. Sementara itu, alasan terbesar menyisakan makanan menurut 48% mahasiswa adalah karena makanan yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi atau preferensi. Meskipun timbulan sisa makanan masih terjadi di kantin kampus, namun >50% responden mengapresiasi bahwa setidaknya sudah ada upaya pencegahan food waste yang dilakukan di lingkungan kampus meskipun perubahannya belum signifikan. Sebanyak 58% mahasiswa memiliki pandangan bahwa upaya dalam pencegahan dan pengurangan food waste di kantin kampus masih perlu ditingkatkan misalnya dengan memberi harga diskon pada kelebihan makanan yang tidak habis terjual di kantin, penyediaan sarana penyimpanan makanan untuk makanan berlebih atau makanan yang tidak habis namun masih layak konsumsi, dan pengadaan media edukasi dan promosi kesadaran terhadap food waste di area kantin dan lingkungan kampus.
Sisa pangan atau yang lebih akrab dengan istilah food waste merupakan salah satu masalah global yang menjadi prioritas penanganan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) khususnya pada poin 12.3 yaitu mengurangi limbah sisa pangan secara global sebesar 50% per kapita baik di tingkat produsen maupun konsumen di tahun 2030. Menilik data pada dashboard Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Tahun 2025, jumlah sampah yang berasal dari sisa makanan sebesar 40.68% dari total seluruh timbulan sampah secara nasional. Sementara itu, bersumber dari data yang sama, DIY khususnya Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta memiliki kontribusi sampah dari sisa makanan sebesar 46.49% dan 48.35% dari total timbulan sampah. Sebanyak 5% dari total sisa makanan yang terbuang berasal dari penyelenggaraan makanan seperti kantin, kafetaria, hotel, dan usaha makanan lainnya. Pengurangan limbah sisa pangan di tingkat produsen, secara khusus pada penyelenggaraan makanan tentunya tidak terlepas dari peran perilaku konsumen. Oleh karenanya, tim dosen Departemen Gizi Kesehatan Marina Hardiyanti, S.Gz., M.Sc bersama alumni dan mahasiswa Prodi S1 Gizi, Hanif Adinaya Pawestri, S.Gz., Satria Perdana S.Gz., Dietisien, dan Gisela Silverine Widyananda menginisiasi survei kepada 105 responden yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan program studi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM yang menjadi konsumen kantin dan kafetaria di lingkungan kampus FKKMK untuk mengetahui gambaran perilaku mahasiswa terhadap food waste.

Yogyakarta, 15 Agustus 2025 —Kotagede dikenal bukan hanya sebagai kawasan bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam, tetapi juga sebagai sentra kuliner tradisional yang melegenda. Dua makanan khasnya, Kipo dan Kembang Waru, telah diwariskan turun-temurun dan menjadi ikon cita rasa masyarakat Yogyakarta. Namun, di tengah popularitasnya, produk-produk tersebut sebagian besar masih diproduksi oleh UMKM secara tradisional tanpa memiliki sertifikasi halal resmi. Padahal, sertifikasi halal saat ini semakin penting sebagai jaminan mutu, keamanan konsumsi, sekaligus modal untuk memperluas akses pasar baik nasional maupun internasional.
Yogyakarta, Juli 2025 – Tim pengabdian masyarakat Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) akan menyelenggarakan program “Educating and Empowering Communities: Building Sustainable Kitchens Through Upcycled Food Innovation” pada 26–27 Juli 2025 di Dusun Gondangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman.
Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, untuk mengelola dapur secara lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan bahan pangan sisa menjadi hidangan bergizi bernilai ekonomis. Sebanyak 16 ibu-ibu akan dilatih untuk mengolah bagian pangan yang sering terbuang, seperti kulit buah, batang brokoli, atau biji-bijian, menjadi produk makanan yang kreatif dan sehat.
Yogyakarta – Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk pekerja di sektor penyelenggaraan makanan. Kali ini, kegiatan difokuskan pada peningkatan kesadaran serta kapasitas petugas katering dalam menerapkan prinsip gizi seimbang dan postur kerja ergonomis untuk mencegah gangguan muskuloskeletal akibat pekerjaan (Work-Related Musculoskeletal Disorders/WRMSD).
Work-Related Musculoskeletal Disorders/WRMSD merupakan salah satu penyebab disabilitas terbanyak kedua di dunia. Kondisi ini ditandai dengan nyeri otot, tulang, dan persendian yang dapat mengganggu produktivitas kerja hingga meningkatkan beban ekonomi individu maupun institusi. Studi-studi global menunjukkan tingginya prevalensi WRMSD pada pekerja industri katering dan restoran, termasuk di negara-negara Asia seperti China, Malaysia, dan Hong Kong. Meskipun dipengaruhi oleh usia dan kondisi kesehatan, WRMSD dapat dicegah melalui faktor yang dapat dimodifikasi, seperti penerapan ergonomi kerja yang tepat dan asupan gizi yang menunjang kesehatan muskuloskeletal.
Yogyakarta – Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk penguatan Kader Kesehatan Desa. Obesitas merupakan faktor risiko berbagai macam penyakit tidak menular (PTM) yang prevalensinya semakin meningkat di masyarakat. Sehingga, deteksi dini dan intervensi yang efektif adalah penting untuk meningkatkan kualitas hidup individu dan mengurangi biaya pengobatan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam penilaian status gizi pada kader kesehatan di Desa Girirejo, Imogiri, Bantul. Peserta kegiatan adalah 60 Kader Kesehatan di Desa Girirejo, Imogiri, Bantul. Program pengabmas dilaksanakan tanggal 10 Agustus 2025 dalam beberapa rangkaian kegiatan, meliputi pre-test, pemberian edukasi tentang penilaian status gizi dan makanan, praktik mandiri pengukuran tubuh untuk penilaian status gizi (meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, lingkar panggul, dan penentuan indeks-indeks ukuran badan), post-test dan feedback peserta, serta diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan kepada Desa Girirejo.
Yogyakarta – Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk penguatan Kader Kesehatan Desa.
Kader kesehatan merupakan seseorang yang dengan sukarela mau membantu masyarakat untuk bisa menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dibidang kesehatan. Banyak orang menganggap bahwa pola hidup sehat adalah pola hidup yang sulit dijalani, disinilah peran kader kesehatan sangat diperlukan, oleh karena hal tersebut maka sangat perlu dilakukan peningkatan pengetahuan terkait pola hidup sehat pada kader kesehatan. Pengabmas ini bertujuan untuk memberikan edukasi pada para kader kesehatan tentang aktivitas fisik dan kebugaran dalam upaya untuk peningkatan pengetahuan kader kesehatan lebih professional sehingga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat.
Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan global paling mendesak yang memberikan dampak nyata terhadap sistem pangan dunia. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2023 menyebutkan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi sistem pangan global, di antaranya memengaruhi produktivitas tanaman, ketersediaan pangan, dan harga bahan makanan pokok. Di Indonesia, krisis ini diperparah dengan ketergantungan pada pangan impor dan rendahnya diversifikasi pangan lokal. Padahal Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber protein, 228 jenis sayuran, dan 389 jenis buah-buahan yang dapat dimanfaatkan secara optimal.