Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang diharapkan dapat menjadi model intervensi gizi berbasis sekolah yang dapat secara efektif mengatasi masalah gizi pada remaja. Indikator keberhasilan program MBG pada aspek output berupa tersalurkannya makanan bergizi kepada sasaran peserta dan terlaksananya edukasi gizi kepada sasaran peserta. Komponen MBG berupa satu paket menu makanan lengkap yang memenuhi standar gizi dan edukasi gizi, yang sudah dimulai pelaksanaannya mulai tanggal 6 Januari 2024 di seluruh Indonesia.
Program Studi Sarjana Gizi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), menyelenggarakan kuliah tamu praktisi bagi mahasiswa semester enam untuk Mata Kuliah Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan II (MSPM II) yang mengupas tuntas penerapan penyelenggaraan program MBG khususnya di area Sleman. Kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat, 16 Mei 2025 pukul 15.30 hingga 17.10 WIB dengan menghadirkan dua narasumber yaitu Tasya Khoirunnisa, S.Gz, selaku Kepala Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Kabupaten Sleman – Sleman 2 yang membahas topik “Persiapan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, serta tantangan dan peran profesi gizi bersama berbagai pihak multidisipliner dalam program MBG” serta Ibu Sri Wahyuni Dewi, S.E., M.M, sebagai pemilik katering mitra program MBG sekaligus Ketua Perhimpunan Pengusaha Jasa Boga Indonesia (PPJI) Provinsi DI Yogyakarta yaitu Katering Sari Dewi yang memaparkan topik “Pengalaman penerapan program MBG”.
Kegiatan ini dibuka oleh MC Putri Asaku, mahasiswa Program Studi S1 Gizi, dilanjutkan pembukaan oleh Ibu R. Dwi Budiningsari, S.P., M.Kes., Ph.D selaku Ketua Program Studi S1 Gizi, FK-KMK UGM sekaligus sebagai Dosen Koordinator Mata Kuliah MSPM II. Kemudian sesi inti perkuliahan dipandu oleh Chalista Nur Aulia, mahasiswa Program Studi S1 Gizi. Pada kesempatan ini, Tasya Khoirunnisa, S.Gz. menyampaikan materi mengenai peran SPPG, pengalaman, dan tantangan yang dihadapi dalam mengelola seluruh proses MBG. Dimulai dari persiapan operasional seperti memverifikasi alur kerja dapur yang akan digunakan, perencanaan kebutuhan gizi, hingga monitoring dan evaluasi dengan memantau sisa makanan dan menyebarkan kuesioner evaluasi secara berkala kepada para siswa untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu ditingkatkan sehingga kualitas program tetap terjaga. Tasya juga mengatakan bahwa sangat penting menerapkan lima kunci keamanan pangan.
Pada sesi kedua, Ibu Sri Wahyuni Dewi membagikan informasi terkait proses yang dilalui Katering Sari Dewi hingga menjadi mitra MBG SPPG Sleman 2, pengalaman dan kendala sebagai pihak katering mitra dalam pelaksanaan MBG dari segi modal, dinamika kerja sama dengan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), ahli gizi, akuntan, koordinator lapangan, mitra, pekerja tim BGN, dan sasaran, serta bagaimana Ibu Dewi mengatasi kendala tersebut. Ibu Dewi juga menyampaikan bahwa Katering Sari Dewi berkolaborasi dengan pemerintah setempat membangun bank sampah. Melalui inisiatif ini, sisa makanan dijadikan pakan ternak dan kompos, sementara pada sampah anorganik dilakukan pengolahan tersendiri sehingga diharapkan tidak mencemari lingkungan.
Para mahasiswa menunjukkan minat dan antusiasme yang tinggi selama acara berlangsung, dilihat dari keaktifan dan partisipasi mereka dalam mengajukan pertanyaan yang kritis dan mendalam. Melalui kegiatan ini, Program Studi S1 Gizi FK-KMK UGM berkomitmen dalam memberikan pengalaman pembelajaran yang relevan dan aplikatif bagi mahasiswa sebagai bekal penting untuk menjadi seorang profesional di bidang gizi. Mahasiswa diharapkan lebih memahami konsep dan penerapan penyelenggaraan makanan massal serta tantangannya di lapangan, apalagi di semester berikutnya mereka akan mulai melaksanakan praktik di lapangan, termasuk di institusi penyelenggaraan makanan seperti katering. Kegiatan ini berperan penting dalam turut mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nomor 3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera (good health and well-being), nomor 9 yaitu industri, inovasi dan infrastruktur (industry, innovation and infrastructure), nomor 12 yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (responsible consumption and production), nomor 13 yaitu penanganan perubahan iklim (climate action), dan nomor 17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan (partnerships for the goals).

